<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d10946325\x26blogName\x3dPanggung,+Tinta,+dan+Aku....\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLACK\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://yunis.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://yunis.blogspot.com/\x26vt\x3d-6159295004169351406', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Wednesday, January 18, 2006

Tinta : 15

LET'S ROCK THE CYBER!
(Sebagai kelanjutan dari Tinta: 10-sekedar cuplikan)
antara ada dan tiada
dimana ada pada tiada
dimana tiada pada ada
dimana ada pada ada
dimana tiada pada tiada
mengada tiada, tiada mengada

Antara senang dan tidak. Senang karena akhirnya akan bertemu dengan teman-teman baru yang sudah menemani setiap malam-malamnya. Tidak senang karena merasa takut semua akan berakhir. Seorang aktor sangat bangga ketika berdiri di atas panggung, lalu ketika petunjukan usai, layar ditutup dan tepukan berakhir, maka tamatlah semuanya.
Apakah akan seperti itu? Ahhhh.. Tiba-tiba perasaan sentimentil menyelinap. Bodoh! Umpatku dalam hati. Ingat, jangan menyamakan kopdar dengan panggung sandiwara. Dibalik topeng-topengnya, mereka adalah manusia nyata. Kenapa musti takut, semua pasti ada akhirnya. Cepat atau lambat pertemuan tak akan bisa dihindari. Bukankah justru akan semakin mempererat persahabatan yang sudah terjalin selama ini. Ya-ya, mungkin saja.

1 Januari, 03.00 dini hari menuju Anyer
Mobil kijang yang kami tumpangi meninggalkan kota, memasuki jalan tol. Hanya aku dan Ijal. Tahun sudah berganti baru. Lembaran baru. Sepanjang perjalanan kami berbincang tiada henti untuk menghalau kantuk dan menyambut kuncup tahun yang baru berganti.
Perjalanan memakan waktu 5 jam. Tepat jam 8 pagi kami tiba disebuat bungalow di pinggir pantai Anyer. Nampak beberapa buah mobil terparkir disana. Berplat B. hmm, teman-teman dari Jakarta. Cuma kami yang berplat D. segera kuparkirkan mobil. Sangat lelah, bayangkan sehabis pentas, langsung meluncur ke Anyer dan aku menyetir tanpa bergantian, soalnya Ijal ga bisa nyetir. Ups!
Di teras terlihat beberapa orang tengah bersantai menikmati pagi sambil menatap pantai yang terhampar lepas didepan. Pemandangan yang indah. Aku tidak mengenal satupun diantara mereka. Begitupun Ijal ketika kutanyakan padanya apakah ada diantaranya yang dia kenal. Kami berjalan bersisian.
“Assalamualaikum.” Sapa Ijal begitu menginjak teras, orang-orang tadi langsung memandang kami bergantian. Seolah bertanya siapa ni?
“Wa’alaikum salam.” Jawab seorang perempuan yang mengenakan jilbab. Kami berjalan mendekat. Satu persatu kami salami sambil mengenalkan diri.
“Onyet.” Begitu Ijal menyebut dirinya dengan nama cybernya pada setiap orang yang disalaminya.
“QQ.” Begitu juga aku, mengenalkan diri dengan nama cyberku.
-------

21 Februari, Pucak
Lain room Nusa001, lain juga cerita room JKT111. Kali ini yang punya ide kopdar akbar untuk room JKT111 ada sekitar 4 orang. Sekaligus yang ditugasi mengkoordinir teman-teman dari kota masing-masing. Aku dan Kimi diserahi tugas mengkoordinir teman-teman dari Bandung. Dengan tugas ekstra untukku membuatkan kaos untuk teman-teman. Beruntung ada seorang dermawan asal Kalimantan yang bersedia mendanai pembuatan kaos ini. Sementara dua orang moderator atau yang kita panggil pak RT bertugas mengkoordinir massa di Jakarta.
Singkat cerita, kami bertemu di puncak. Tempat yang kami sepakati untuk acara kopi darat akbar ini setelah melalui perdebatan yang cukup panjang. Sebuah rumah peristirahatan kami sewa. Untuk acara ini kami urun dana Rp. 100.000,- perorang. Tentu saja tidak semuanya bayar. Belum lagi yang minta diskon. Wah aku sempat pusing juga. Walhasil, acara tetap terlaksana.
-----
soon! 11 Februari 2006

Saturday, January 14, 2006

Tinta : 14

Lagu Yunis
Lagu Cinta Diam-diam

Soni Farid Maulana*)
aku menyukai keringatmu
yang mengucur deras
di antara himpitan pahaku
kau hanya budak napsu

MEMBACA antologi puisi “Kukenal Kau Lewat Malam,” lepas dari segala kelebihan dan kelemahannya dalam mengolah kata, lambang, metafor, rima, apapun namanya yang berkaitan dengan penulis puisi, adalah membaca “ayat-ayat cinta” dengan berbagai variasinya. “Ayat-ayat cinta” itu ditulis oleh penyair Yunis Kartika selama 1996-2005.
Ayat-ayat itu diam-diam datang kepada kita kadang seperti gairah terpendam, yang kemudian meledak setelah menemukan muara pembebasan, ketika rindu menemukan maknanya yang signifikan dengan itu. Namun demikian pada sisi yang lain, ayat-ayat itu diam-diam datang kepada kita seperti sepangkas bunga bakung, yang dipisah orang dari tangkainya secara paksa. Pada sisi lainnya justru, justru ia datang seperti gelombang laut yang liar: yang seakan-akan hendak berkata, “enyahlah kesepian dan kesunyian dari batinku.” Keliaran itu, bisa kita rasakan dalam empat larik puisi di atas, yang diberi judul Kau.
Sebagai penyair yang tengah berproses dalam menemukan daya ucapnya, yang lebih memungkinkan untuk berkembang dari apa yang telah dicapainya selama ini, Yunis setidaknya telah menunjukkan pada kita bahwa apa yang ditulisnya itu benar-benar bersumber dari pengalaman, yang tidak hanya merujuk kepada pengalaman rohaninya saja, tetapi juga pada pengalaman berbahasa, mengolah kata, melahirkan daya ucap yang personal dalam menulis puisi-puisinya.
Ia telah mengolah dua pengalaman itu secara sungguh-sungguh dalam upayanya yang keras membangun dunia rekaan dari timbunan kata-kata. Tanpa penghayatan yang dalam terhadap apa yang dialaminya secara rohaniah itu, kiranya sangat musthil Yunis bisa menulis puisi seperti di bawah ini, yang ditulis dengan kalimat-kalimat yang sederhana. Namun makna yang dikandungnya tidak sesederhana itu.
LAGU CINTA
aku melihatnya diam-diam
mengharap dan mengkhayalkannya diam-diam
lalu menyintainya (juga diam-diam)
hanya ketika aku syukuri, aku tak diam-diam
aku melihatnya diam-diam
mengharap dan membelainya diam-diam
menelan hasrat yang juga diam-diam
ketika aku terjaga aku memikirkannya juga
diam-diam
sebuah tanya menyeruak dalam benakku:
“haruskah terus diam-diam?”
“Haruskan terus diam-diam?” sebuah pertanyaan eksistensial, yang menohok. Bagi peragu, mungkin pertanyaan semacam itu hanya akan menggiring dirinya ke sudut kelam. Akan tetapi bagi orang yang ingin menunjukkan harga dirinya, tentu saja, jawabnya adalah tidak, yakni tidak diam melulu. Suatu saat kita harus menunjukkan eksistensi kita sebaik atau seburuk apa pun ia. Apa sebab? Karena hidup kalau tidak ditawar adalah penawar dalam pengertian seluas-luasnya.
Dalam proses yang demikian itu, seluruh kehadiran kita diuji untuk mengada, untuk menjadi sesuatu yang meruang dan mewaktu. Upaya untuk meruang dan mewaktu ini setidaknya telah diekspresikan Yunis lewat baris-baris puisinya, yang sebagian besar bersumber dari pengalaman hidupnya yang pahit dan getir, terpelanting ke dalam dunia yang sepi dan sunyi, kegagalan. Atas pengalaman semacam itu, di situ duka seakan tiada batasnya yang digambarkan Yunis seperti puisinya di bawah ini:
DERMAGA
mengapa tak kau tambatkan
perahumu pada satu dermaga?
padahal kau lihat
bukan hanya satu pelabuhan
yang mau kau sandari
kalau dulu
pernah ada pelabuhan kecil yang harus
dilupakan
mengapa tak kau lakukan?
Setidaknya, demikianlah Yunis telah hadir kehadapan kita dengan puisi-puisinya yang ditulis dengan kalimat demi kalimat yang sederhana itu, namun padat makna. Ia dengan segala kelebihan dan kelemahannya telah berani menunjukkan dirinya dengan segala luka-luka yang dikandungnya. Lewat apa yang ditulisnya ini, ia berupaya meruang dan mewaktu, atau setidaknya – ia telah berupaya mengkristalkan berbagai pengalaman hidupnya itu dalam lemari es kata-kata -- yang pada suatu hari nanti akan mencair menjelma air yang bening di hadapan pembacanya. Peristiwa ini terjadi karena apa yang ditulis oleh Yunis telah membuka ruang komunikasinya secara lebar-lebar, sehingga jika ada orang masuk ke dalamnya merasa karib dengan apa yang dialaminya selama ini. Ini artinya ada pengalaman kolektif, yang diam-diam diupayakan hadir oleh Yunis dalam sejumlah puisi yang ditulisnya selama ini. Setidaknya itulah saya tangkap dari pengalaman baca saya terhadap teks puisi yang ditulis Yunis selama ini. ***
Bandung, 2 Oktober 2005
*Penulis adalah seorang Penyair dan Wartawan

Friday, September 30, 2005

Tinta : 13

Catatan kaki untuk Yunis

Arthur S Nalan*)

Membaca 65 puisi yang digoreskan tangan perempuan yang punya “api gelora kepenyairan yang langka” karena wujudnya bisa berupa kilasan-kilasan kesan yang sublime, lewat kata-kata terpilih yang tak terduga, walaupun berbicara tentang “sepi”, “pengakuan”, “kegamangan” serta “pilihan-pilihan”. Ambil contoh yang saya anggap kilasan sepi adalah puisi yang berjudul Teratai, metaphor teratai menjadi tepat ketika sendiri di telaga, menikmati dini hari. Dan dalam gelapnya kamar, bisa kamar hati maupun kamar jiwa. Sepi terasa, apalagi kalau puisi ini direnungkan di malam sunyi, coba saja.
Sedangkan kilasan pengakuan diwakili oleh puisi yang berjudul Akhir Perjalanan, sebuah ajakan untuk kembali pada kesadaran lewat metaphor pakaian terbaikmu, tetapi untuk kehadiran sebuah gumpalan kekecewaan yang di metaphorkan pula dengan janin yang diaborsi berarti digugurkan bukan pada saat yang tepat. Sementara kilasan kegamangan yang berjudul Minggat, penyairnya ingin lari dari sebuah dunia yang palsu tapi terasa gamang karena ditutup dengan bertanya, komitmen entahlah dimana benda abstrak itu berada. Untuk puisi yang terasa sebagai pilihan-pilihan, diantaranya puisi-puisi Air Mata, Luka, Rasa, Jarak dan banyak lagi. Tetapi saya paling suka puisi yang berjudul Tunggu, karena terasa ada kerinduan yang dalam dan intens, hati seorang perempuan yang mendambakan kasih sayang.

Tunggu

Sayang,
Aku akan tiba di kota biru
Sebelum pagi habis
Meluncur di ujung gelas kopimu


Kesan setelah membaca 65 puisi Yuni ini, terasa “berkecamuk” berbagai perasaan dan ia memang mengajak merenung tentang pertautan antara dua insan, laki dan perempuan. Posisi yang diambilnya adalah seorang perempuan yang mempertanyakan hakekat kasih sayang yang tak lupa ada nafsu di dalamnya, baik amarah maupun birahi. Puisi memang sublimasi, tetapi puisi bukan hanya sekedar curahan hati. Jalan masih panjang untuk kau jelang, menjadi penyair perlu membangun suara hati dengan jiwa Sanyasi (ingat drama Tagore). Saya hanya baru bisa membuat catatan kaki. Selamat.

Bandung, 27 September 2005
*)Penulis adalah Rektor STSI Bandung, penulis essai dan naskah drama dan pengamat seni

Monday, August 29, 2005

Tinta 12 : 3 KISAH

Kado Ulang Tahun Dari Sang Kakek
Hari ini empat tahun yang lalu
Telah lahir bayi laki-laki yang mungil
Tanpa dosa dan noda
Tanpa tahu mengapa dia harus lahir

Hari-hari empat tahun yang lalu
Sungguh bukan waktu yang cukup lama
Tapi bukan pula waktu yang pendek
Kan menjadi bagian dari satu keluarga

Tumbuh dan berkembanglah kau cucuku
Jadilah lelaki kecil yang tabah
Jadilah kau setegar karang
Kuat diterjang ombak besar sekalipun

Hari ini adalah hari ini
Telah tumbuh sang penyejuk hati
Lelaki kecilku yang tampan
Harapan dan kasih kami

Kakekmu hanya punya doa
Sebagai restu langkahmu kelak



Kisah Kakek dan Cucu Laki-lakinya
Anak kecil itu lari kian kemari
Sesekali melompat ke kiri
Lain kali dia melompat kekanan
Tanpa henti dia berteriak
Tertawa riang, renyah menawan

Bam!! Suara bola menerjang tembok
Prak!! Suara kaca menampar kaca jendela
Anak kecil itu bertambah riang
Sesekali dia menggerutu

Anak kecil itu tak kenal lelah
Kakinya tak henti menendang
Berlari menerjang kedepan

Kini, dia kesal pada sang kakek
Tangan kecilnya memukul tiada henti
Nangis!! Teriaknya garang

Sang kakekpun berpura menangis
Tapi si kecil bukannya berhenti
Ia memukul semakin jadi

Anak kecil itu tak perduli hari
Karena ia asyik main sendiri
Hari ini berlalu amat sunyi

Sebab, si kecilku sedang pergi.


Kisah Mertua Malang
Ketika Tuan datang pada kami
Meminta anak kami menjadi istri Tuan
Bukan kegembiraan yang meliputi hati kami
Tapi suatu pertanyaan;
“Mengapa anak kami, Tuan?”

Ketika Tuan datang pada kami
Meminta anak kami menjadi istri Tuan
Ketika itu, Tuan tidak tahu siapa kami
Tapi kami tahu siapa Tuan

Ketika Tuan datang pada kami
‘tuk mengembalikan anak dan cucu kami
Kami hanya bisa diam
Kami memang tidak punya pilihan

Apa mungkin Tuan akan datang lagi
‘tuk melihat maha karya Tuan?
Tuan tak perlu mengatakan sesuatu
Sebab kami tak punya jawaban
(senin, 29 Agustus 2005 )

Monday, July 04, 2005

Tinta 11 :

sebuah naskah monolog


TIDAK, BUKAN!
(sebuah monolog)
Karya : Yunis Kartika


Sebuah tempat, di sebuah kota besar, pada sebuah ruangan. Tidak terikat waktu (bisa terjadi pagi, siang, sore, atau malam hari) Sebuah ruangan yang cukup besar, barangkali 10 x10 m persegi, dengan dominasi warna hijau. Bergantungan gambar-gambar perempuan. Nampak salah satunya potret/gambar seorang tokoh perempuan, Rd. Ajeng Kartini, gambar perempuan hampir telanjang, gambar seorang perempuan dalam iklan busana kerja impor, dan sebuah gambar tanpa kepala, namun jelas bahwa itu seorang perempuan (bahkan bisa lebih banyak lagi). Pintu masuk dari sebelah kanan penonton, Ruangan tersebut nampak sangat tenang. Kita dapat melihat tirai yang membentuk ruangan kecil dan beberapa buah kursi.

Narrator :
Salam sejahtera bagi saudara-saudara yang budiman. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk dapat hadir dan menyaksikan pementasan ini. Bagaimana kabar Federasi Teater Indonesia - kita? Semoga memberikan kecerahan bagi pelaku teater, tidak hanya untuk teaterawan (kesannya kok pekerja teater hanya laki-laki) tapi juga bagi teaterawati. Hehe… Maaf, saya tidak bermaksud untuk menyinggung dan menyindir pihak manapun. Hanya sangat disayangkan kalau federasi teater Indonesia kita ini hanya sebatas slogan saja. Namun, yang terpenting bagi saya adalah, bisa berdiri dan mementaskan karya ini sudah cukup membanggakan. Terimakasih saya ucapkan.
(Narator mulai memasuki separuh peran)
Sepenggal kisah tentang HAWA. Manusia dengan jenis kelamin perempuan. Kebingungana dan keironisan perempuan dalam perjalanannya. Tentang keinginannya, kemandirian, keindahan, dan cinta… “perempuan” dari sudut pandang yang selama ini terekam. Meski perempuan harus mengakui hampir selalu terjebak pada subjektifitas dan perasaan.
(seperti bicara pada dirinya atau bisa juga pada penonton)
Perempuan – bukan yang memikul dagangan segede raksasa di punggungnya yang setiap subuh memasuki pasar induk dengan kepala tegak tentu - membutuhkan pengakuan ….
Tapi pengakuan dari siapa dan untuk apa?
Tidak menyadari sepenuhnya tentang Sejarah panjang yang mendudukkan perempuan diurutan kedua - sekaligus menempatkan telapak kakinya sebagai sorga - Kaum yang terjebak dalam sebuah siklus pembebasan yang semu. Perempuan dengan empat kepribadian, mungkin lebih - Hidup pada abad ini, mengikuti arah dan peradaban kini, Hawa – perempuan yang terpecah.
Terbentur konflik poligami yang nyata-nyata diperbolehkan oleh agama. Terdesak ketika tampil mandiri menjadi pemimpin. Ketidakpercayaan masyarakat, diskriminasi dan perang batin dirinya. Hawa adalah cerminan kekuatan, kelembutan, keliaran, kejahatan dan kerapuah.
Karakter yang terbentuk dari gejolak-gejolak yang terjadi dalam diri perempuan bernama HAWA, pergulatan batin untuk setuju dan tidak setuju menyebabkan nuraninya, mengatakan ‘TIDAK!’ dan ‘BUKAN!’, Hawa-pun tampil menjadi refleksi, bayangan yang menjadi cermin bagi dirinya. Sosok kebimbangan dari model-model yang ada.
Sungguh, aku tidak pernah memilih menjadi perempuan. Menjadi Hawa... Siapa memilih menjadi HAWA?
-----

Di Sebuah tempat, kota besar, dalam sebuah ruangan. Hawa duduk diatas kursi sambil menerawang.
Hawa :
Hmm..sebentar lagi. (melirik jam tangan, lalu kembali pada kondisinya semula, sesekali dia mencuri-curi pandang ke pintu yang satunya. Seolah-olah tengah melihat tanda-tanda. Lewat berapa waktu dia berbicara lagi).
Sudah lewat dari waktu yang ditentukan, apakah DIA akan benar-benar datang? (terdiam kembali seperti sedang berpikir), coba kuingat-ingat lagi… Ya, aku ingat betul perjanjian itu. DIA akan datang pada waktu yang sudah disepakati. Barangkali DIA sibuk mengurus rumahnya, atau sibuk mengurus suaminya, mungkin juga sibuk ke salon kecantikan, atau ada rapat penting yang sangat mendadak? ah, semoga DIA tidak celaka. Siapa tau, karena DIA manusia super yang mengagumkan dan sangat dibutuhkan oleh siapapun. Atau.. DIA menunggu seperti aku?

Hawa itu kembali terdiam, kita hanya dapat melihat ekspresi wajahnya yang kadang-kadang berubah. Sesekali terlihat seperti sangat sedih, sedetik kemudian romannya berganti. Barangkali pikirannya dipenuhi dengan kilasan-kilasan masa lalu tapi bisa jadi dia memikirkan masa yang akan datang.
Hawa :
Seperti yang anda lihat, ruangan ini cuma berisi benda- benda mati, kalaupun itu ada yang hidup barangkali yang berakal cuma aku. Menurutmu apa yang mungkin terjadi? Kenapa pertemuan ini terlambat dari waktu yang sudah dijanjikan? (berpikir sejenak) sebentar, aku masih terlalu lelah, tidak perlu tergesa-gesa. Karena kesimpulannya hampir selalu sama. Bagaimana kita? Apakah ada kemajuan? Barangkali kita perlu mengubah metode agar dapat dipahami. Mungkin otak ini mengalami kram dan hati menjadi bebal untuk menangkap tanda-tanda yang pantas untuk pribadi. Menyedihkan sekali.
Sangat terlambat! apa terjadi sesuatu hingga DIA tidak bisa kemari. mungkin dipukuli suaminya sampai babak belur hingga tak bisa keluar rumah karna malu dilihat orang, atau ketika hendak menuju ruang rapat dilantai 33 liftnya berhenti, lalu terjebak bersama seekor srigala kambuhan didalamnya? Tak dapat kubayangkan srigala itu mencabik-cabik harga dirinya hingga tak bersisa(terkekeh tiba-tiba, tersadar dengan ekspresinya) lihat ekspresi dan caraku berbicara? rupanya aku bisa bersandiwara, bakat terpendam menjadi aktor. (kemudian berubah lagi) tapi… semuanya bisa terjadi dan ini bukan main-main? aku berada disini bukan untuk bermain-main.
(Dia kemudian duduk kembali dan larut dalam pikirannya. Keheningan yang cukup lama)
Hawa :
Akhir-akhir ini aku semakin sering merasa gelisah. Bahkan aku perlu obat penenang agar bisa tidur. Suatu kali aku bermimpi, didalam mimpi itu aku memiliki sayap Rajawali, tapi ketika mencoba terbang bulunya satu persatu berguguran, dan yang tertinggal hanya sebuah tubuh terbungkus kulit yang terluka disana-sini. Aku menjerit lalu terbangun. Sangat menakutkan, itulah..karena terlalu mencemaskan akal yang terbelenggu dengan kebenaran sendiri, menakutkan jika keakuan-ku menjelma kesombongan, menggelapkan seluruh pengelihatan. malam itu, sebuah pertanyaan yang sangat ganjil muncul lagi; roh raga berkelamin perempuan bernama Hawa ini, berkah atau kutukan? (terdengar langkah kaki yang tergesa) Akhirnya DIA datang juga, coba aku lihat.. (berjalan kearah pintu dan melongokan kepalanya keluar, namun terlihat jelas kekecewaan diwajahnya) Hanya seorang perempuan dengan tas besar yang lewat.
---
Udara di ruangan tidak berubah, Hawa mengawasi pintu, menunggu siapa yang akan melewati pintu itu. Membenahi roknya yang sedikit kusut, membersihkan kacamatanya. Terlihat Hawa yang cukup matang, usia 32 tahun.
Hawa :
Gila! Lama-lama aku yang gila!! bagaimana ini? Kita seolah-olah hanya berjalan ditempat. Aku tak sanggup hidup dengan jiwa yang hampir gila. (menutup mulutnya) tidak, tidak, aku tidak gila. aku hanya harus belajar mengendalikan emosi, mimpi, harapan dan kegelisahan-kegelisahan ini HARUS menjadi inspirasi dan kekuatan di masa depan. Aku tidak akan membiarkannya membuatku jadi gila.
(Lagi-lagi terdengar langkah kaki, dan berhenti tepat tiga langkah didepan pintu)
Aku bertaruh dalam hitungan lima DIA akan muncul. satu..dua…tiga..empat..limm.. (tidak ada yang muncul, Hawa semakin kecewa). Pertemuan yang terakhir (putus asa, lalu kembali ketempat semula)
Kalau begini, sebaiknya aku harus mulai sendiri, baiklah, aku coba dengan menganalisa. (serius) harus dibuat sedikit catatan, (mengambil kertas). Semacam jurnal perkembangan. Hawa.. Hmmm… jangan banyak dijejali mimpi dan harapan yang tak terkendali. Realistis dan logis, harus digunakan Untuk menghadapi teror perempuan-perempuan berkedok pendidikan tinggi, dengan pikiran tetap terkotak-kotak, agar tidak mudah dimanfaatkan. Ingat! jangan tercampur dengan perasaan.
Fakta yang tidak menyenangkan, Mati-matian mendapatkan perlindungan hukum, menuntut kesetaraan GENDER, membela hak-hak PEREMPUAN, menentang kekerasan pada PEREMPUAN, sementara pada saat yang sama - Disana tanpa RASA malu dan berdosa - parade public pigure MELAKUKAN PEMBELAAN ATAS “berpose telanjang” SEBAGAI KARYA “seni”, jawaban yang sangat diplomatis, untuk mendukung pornografi. Bagaiman bisa menentang pelecehan seksual, kenyataannya perempuan sendiri yang mengeksploitasi diri hingga mengundang pelecehan. Seperti menitipkan ikan pada kucing. Sayang, kucing sekarang lebih suka ikan import hahaha… Mencoreng wajah dan harga dirinya. Lalu meraung-raung ketika bencana terjadi. (mendengus)
Perempuan-perempuan…
Bukankah saatnya sekarang kita bercermin, meneliti dengan sungguh-sungguh, lihat! Cermati.. jangan-jangan kita sendirilah yang menyebabkan kedudukan kaum perempuan terus rontok. Melempar persoalan tanpa menyelesaikannya. Mengandalkan peubahan hanya pada gerakan-gerakan, bukan pada perubahannya yang mendasar. KONFERENSI PEREMPUAN, LSM PEREMPUAN, BANTUAN UNTUK PEREMPUAN, GERAKAN PEREMPUAN ….
Gerakan yang mana ? Aku menonton sebuah acara televisi hasil adaptasi dari acara luar, puluhan perempuan cantik, beberapa malah bergelar sarjana yang tidak bermutu.. berkumpul disebuah tempat hanya untuk memperebutkan dan dipilih-pilih seorang pria yang konon kabarnya ahli waris tunggal yang kaya raya. JELAS! melecehkan harga diri kaum perempuan. Dan mana suara kita? Mana protes kaum perempuan ? GERAKAN PEREMPUAN ! TOKOH-TOKOH PEREMPUAN ….
Bah ….
Padahal laki-laki SERINGKALI lebih ‘perempuan’ ketimbang perempuan. Ups ….
Jangan tersinggung dulu. Ini hanya sebuah hasil analisa. Analisaku. Bukankah kita sepakat untuk saling menghargai perbedaan ?
Menurutku, Perempuan yang satu adalah laki-laki untuk perempuan lainnya. suatu keseimbangan antara feminin dan maskulin dalam satu manusia. Masalahnya apa cukup menjadi KARTINI baru tanpa memahami maksud sesungguhnya, juga tanpa ditumpangi kepentingan pribadi? Setelah tujuan pribadi tercapai kemudian berlalu seolah-olah telah memberikan makanan pada anjing-anjing kampung yang kelaparan.
Mebuat luka untuk diri dan kaunmnya. Menimpahkan aibnya sebagai kesalahan sistem NORMA yang berlaku di masyarakat. NORMA??? Membingungkan! Lalu Siapa yang akan perduli? Besok lusa boleh jadi para waria yang menuntut kesetaraan. Kita harus segera menemukan pemecahan. Lupakan jurnalnya. Kembali pada titik nol? Konvensional? Atau tak menggunakan peta sama sekali? DIA tidak akan datang, ini pengkhiatan, pelecehan kepercayaan…Ahhhhhhhhh!!!!!!!!!!! (nampak kesal dan mencoret-coret kertas yang dipegangnya, semakin lama teriakannya semakin keras, badannya berputar-putar dan hilang kendali. Lalu terjatuh)
---

Hawa bangkit, dengan Wajahnya tegang, berjalan dan menghilang dibalik tirai. Nampak lampu menyorot dari belakang, hingga nampak siluet atau bayangan seorang Hawa duduk diatas sebuah kursi dibelakang sebuah meja
Pigur 1:
Aku, orang yang sangat percaya diri, dan tentu saja memiliki status sosial yang sangat tinggi. Pakaian bermerek, sepatu Gucci keluaran terbaru, parfum Bvlgari, dan tatanan make up minimalis produk import. Jangan salah mengartikan, memang hampir semua yang menempel dibadan buatan luar negeri. Hanya soal selere saja. (tanpa ekspresi dan nada datar, mendengus)
Selamat pagi Saudara-saudara, hadir semua? Rapat kali ini sangat penting. Kita akan membahas kemajuan yang dicapai oleh perusahaan. Silakan baca laporan masing-masing bagian. Jangan bertele-tele. Baik kita lanjutkan. (bertingkah seperti mendengarkan laporan) laporan anda cukup memuasakan. Selanjutnya bagian keuangan, saya harap anda tidak korupsi, hahaha..tenang pak Sam, saya hanya bercanda. Silahkan baca laporan bapak. Hm..mm.. jadi beberapa pegawai naik gaji, pemasukan? ya…pengeluaran..hm..hmmm… saya mau laporan detail di meja saya. Hari ini. Tentu saja kalau perlu anda dan sekertaris anda lembur untuk menyelesaikannya. Ok, rapat hari ini selesai, saudara-saudara silahkan kembali bekerja.
Tunggu pak Sam, saya dengar anda berbuat pelecehan seksual disini? Apa berita itu benar? Hati-hati, jika anda berniat melakukan diskriminasi gender. (hening sejenak, untuk memperlihatkan para pekerja itu pergi)
menyenangkan mempermalukan dan mengolok-olok mereka, sedikit hiburan. Mereka akan tetap disini demi uang. kita harus bisa menekan dan manfaatkan mereka sebaik-baiknya, sedikit iming-iming bonus bolehlah, tapi jangan terlalu memanjakan. Apalagi kebanyakan diantara mereka bukan dari kaum kita. Beberapa diantaranya boleh kita injak bahkan dijadikan keset sekalipun. Bahkan sebuah kabar berhembus, disebuah kota, terbentuk hawa pilihan secara tidak langsung. Kuda perasaan, macan betina dengan kualitas intelektual teruji. Orang-orang menyebutnya “wonder women”. Uang dan kekuasaan dua hal yang akan membuat seseorang sangat disegani. Pernah dengar bahwa laki-laki memiliki ego yang tinggi. Dia tidak akan mau berada dibawah ancaman ‘girl power’. Sama saja dengan mengijak harga dirinya. Nyalinya menciut. Namun jika kebalikannya, dia akan bertingkah seenaknya karena merasa memiliki uang, dan kendali ada ditangannya. Sesuai selera terpakai, bosan lemparkan saja. (dengan nada penuh dendam). Semoga tidak ada ada lagi perempuan bodoh yang senang dibohongi dan terpedaya dengan kepalsuan yang terbungkus keindahan duniawi. Walau terlihat asli, Imitasi tetap tiruan. Manusia tidak selamanya berada diatas. Aku tak bisa mengubah apa yang terjadi sama mustahilnya menarik perkataan yang sudah terucap. Hanya dengan rasa sakit yang sangat, manusia bisa kuat. Saatnya pembalasan….

Suara: tida..kkk…bu..kannn..ti..daakk..bukkaannnn… tida..kkk…bu..kannn..ti..daakk..bukkaannnn…

Hawa:
Diam! Atau aku bungkam! (Hawa membalas dengan teriakan)
Begitu menakutkankah kata pembalasan? Terimalah, manusia punya hasrat untuk membalas dendam, pahami bahwa pembalasan itu indah.
"""

Terlihat siluet atau bayangan. Seorang perempuan, nampak duduk dibawah, terlihat disana seolah-olah ada seorang laki-laki duduk diatas kursi, kakinya terangkat keatas meja
Pigur 2:
Sayah perempuan biasa, yang punya keinginan sederha; sayah ingin berkeluarga dan bahagia. Suami yang baik, sabar dan tanggung jawab, supaya bisa memimpin rumah tangga. Ada anak-anak yang sehat dan lucu-lucu. Mudah-mudahan ada rejeki untuk bikin rumah, yang sederhana saja... Ambu sayah bilang, jadi istri harus pinter masak dan ngurus rumah, supaya suami dan anak-anak bahagia. Kedah tiasa menghibur hati suami kalau sedang sedih. Jangan lupa mendoakan suami, biar salamet jeung lancar usahana. Tah, nu paling penting kudu siiipp di-‘ranjang’. Seperti Abah, ayah sayah teh baik sekali sama ambu.. Setiap hari, sambil ngebantu di dapur, Ambu sayah selalu mengingatkan untuk jadi istri yang baik, kalau sudah menikah nanti. Seperti Abah, ayah sayah teh baik sekali sama Ambu. Sayah selalu berdoa mudah-mudahan suami sayah nanti kaya Abah. Kebahagian rumah tangga hanya bertahan 3 tahun, lalu suami mulai suka marah tanpa sebab. Kadang-kadang tanganya melayang ke pipi sayah. Seperti tadi siang, waktu mau makan…
“Akang… makan dulu, nasi dan sayur sudah siap, nanti keburu dingin. Bukannya akang teh lapar, ahhh..(perempuan tersungkur) akang teh kenapa? ampun kang..ampun…sayah teh salah apa? Akang mau kemana?"

Setiap malam sayah berdoa sambil menangis, meminta pada Tuhan, untuk membuat suaminya kembali seperti dulu. Anak, sayah belum ngandung juga. Akang bilang sayah mandul, ga bisa ngasih keturunan. Padahal semua keluarganya punya anak banyak. Sayah pasrah begitu Akang nikah lagi. Asal akang bahagia sayah mah ikhlas, mudah-mudahan akang bisa bersikap adil. Asal Sayah jangan diceraikan, kata abah sama ambu, lebih baik dimadu dari pada dibuang suami, malu sama tetangga…apa kata orang-orang nanti.

Suara: tida..kkk…bu..kannn..ti..daakk..bukkaannnn… tida..kkk…bu..kannn..ti..daakk..bukkaannnn…
"""
Lampu kembali menyala mebuat siluet atau bayangan sebuah ruang makan. Mungkin disitu ada sebuah keluarga yang tengah makan bersama
Pigur 3:
Ayah, keputusanku sudah bulat. Aku tidak mau menikah. Tujuan hidup tidak harus membentuk sebuah keluarga. Aku tidak mau menikah, mengurus anak dan suami. Tidak harus menikah kalau ingin punya anak. untuk menghindari poligami aku tidak akan menikah. Dalam salah satu kitab agama dikatakan; bahwa poligami di sahkan, diperbolehkan! Meskipun ada syarat-syarat tertentu untuk melakukannya. Apapun namanya poligami tetap poligami. Sudah dipastikan perempuan merupan korban tunggalnya.
Jika Tuhan yang menciptakan manusia benar ada , kenapa melakukan diskriminasi pada perempuan? Tuhan saja tidak bisa berlaku adil, bagaimana manusia? Tak bisa dipercaya, dengan dogma terbesar dalam kehidupan manusia mengajarkan neraka bagi wanita. Terkurung dalam ayat-ayat kitabnya yang maha benar. Cih, jangan harap aku mau diperbudak oleh dogma itu. Sebaliknya aku akan menghakimi sang pemilik dogma atas ajaran dan aturannya, jika kehidupan setelah mati itu memang ada
(Diam seolah mendengar kata-kata ayah)
Tidak!! cukup ayah mengatasnamakan kewajiban orang tua terhadap anaknya untuk mewujudkan keinginan yang bukan keinginanku. (diam lagi) durhaka? Sebutlah begitu, pendirianku tetap, aku tak mau menikah!! (terdengar suara tamparan) Naïf sekali, hiduplah kalian di zaman batu yang hanya punya insting dasar yaitu makan dan mengumbar nafsu seksual bagai binatang. (plak! Terdengar lagi satu tamparan keras)
bahkan jamanpun tidak memihak kaumku, teknologi tetap mengerutkan otak orang tua itu. Tetap menganggap harga laki-laki lebih tinggi ketimbang anak perempuan. Memberi bekal pendidikan setinggi-tingginya, tetap saja berakhir dalam penjara rumah tangga. Gelar anak-anaknya sebatas adu gengsi dengan tetangga, diam-diam melemparkan kembali dalam kekerdilan pikiran. Sama saja dengan pengkebirian hak manusia. Tidak kawin tidak menyebabkan orang mati. Aku tak akan terpengaruh oleh hukum-hukum yang kolot lalu melacurkan hidup dengan berbakti demi membahagiakan orang tua? Bahkan orang tua hanya media melahirkan saja, selebihnya hidup adalah kebebasan milik pribadi. Milik individu. Milikku!

Suara: tida..kkk…bu..kannn..ti..daakk..bukkaannnn… tida..kkk…bu..kannn..ti..daakk..bukkaannnn…
"""

Hawa keluar, berusaha tidak terpengaruh lagi dengan suara-suara, menyibakan tirai dan mulai merangkak dilantai. Tidak ada apa-apa disana
Pigur 4:
"hihihi..jangan sayang (dengan suara mendesah) ciuman tidak termasuk servis. Kau boleh memakan semuanya" (terlihat pergumulan) ah..ah..ah…
Terdengar desahan napas yang makin lama makin keras, desahan yang sangat intim, desahan kenikmatan yang kemudian meledak menjadi teriakan yang sangat keras. Hening. Dalam hitungan menit terdengar dengkuran, dengkuran laki-laki yang kelelahan. hening, lalu terdengar dengkuran
Pigur 4:
Tuan pejabat yang menyedihkan, seonggok daging dengan sisa-sisa harapan. Hahhahaha (tertawa puas, tapi sinis). 5 menit, lalu K.O. Seharusnya tuan melihat kepuasan diwajahku, saat tuan merangkak diantara selangkangan. Pejabatpun bersikap tololnya dengan hewan, merajuk memohon untuk dipuaskan hasratnya. Hmm… aku sangat mengagumi keindahan tubuhku, jadi wajarkan berbagi keindahan dengan menghasilkan uang. Aku merdeka atas pikiranku dan merdeka mempergunakan mediator jiwa untuk apa saja.
Tuan pejabatku sayang, (bangkit, berdiri disamping ranjang)
Nafsu gede, kemampuan nol. Jadi tidak perlu kerja extra hihihi. Pengen pake Viagra tapi penyakit jantung. Setiap hari, jumlah babi-babi busuk bertambah. Negara berhasil mengembangbiakan kaum pendosa. (melirik sekilas) sudah bau tanah tapi kelakuan masih seperti seorang pejantan sejati. Dipikir uang bisa mengembalikan tenaga muda yang selalu siap tempur? Sayangku, bermimpilah sampai keliang lahat! Wariskan saja semua isi dompet dan kartu-kartu plasticnya, supaya aku ga sedih.
Hihihi… ada sebuah cerita, entah minggu kapan aku tak ingat pasti, seorang laki-laki memandangiku dengan penuh nafsu dari ujung jalan sana. Dia menelanjangiku dengan pandangan penuh birahi. laki-laki menurutku, binatang dengan otak sedikit lurus. (menyalakan rokok kembali) kuteruskan, lalu aku berkata dalam hati, dalam hitungan tiga laki-laki itu akan menghampiri dan mengajak berkencan. Model laki-laki seperti itu sangat mudah ditebak. Dengan alasan klise : kurang puas servis istri lalu jajan, atau ingin tetap diakui keperkasaannya. Masa bodoh, asal kantongnya padat tak masalah. Aku tidak perduli, asal uang itu, hasil merampok kek! Korupsi kek! Jual istrinya, atau menjual keperawanan anak gadisnya… hihihi… yang penting cash money..
Menyenangkan di puja-puja dan dimanja para hidung belang, sebelum terperosok kebawah sebagai objek caci maki masyarakat bermoral, katanya. Resiko profesi hahaha.. sampah masyarakat dalam masyarakat sampah yang naïf. lihat saja banyak tempat aborsi yang dilegalisasi, sama-sama manusia pendosa. Pelacur dan masyarakat sok suci memang tidak akan pernah hidup harmonis. Menghasilkan uang dengan berbagi keindahan, sah saja bukan? Jadi, Enjoy saja.

Suara: tida..kkk…bu..kannn..ti..daakk..bukkaannnn… tida..kkk…bu..kannn..ti..daakk..bukkaannnn…
(suara semakin keras memenuhi ruangan)

"""

Tubuh Hawa terguncang, liar dan tak terkendali. Tarian yang sangat menyedihkan, mengacaukan ruangan. Gambar-gambar terkoyak, Hawa kesakitan dan meneriakan kata-kata tidak dan bukan.
Hawa:
HENTIKAN!!! HENTIKAN!!! TOLONG, HENTIKAN!! (Hawa terdiam membisu, lalu menangis tergugu). Kenapa tidak? Kenapa bukan? Mestikah emansipasi diartikan 'GENDER'? Berebut kekuasan dengan lawan jenis dan menempatkannya sebagai MUSUH? Ahhhh… mana DIA? Jangan lari!!! Kemari! Kau meracuni kami dengan pemahaman yang setengah-setengah. aaggghh…racunnya sudah menyebar, ahhh.. aku perlu udara, untuk membebaskan prasangka. Sia-sia.. aku takut, waktu hanya membuat kita tua. Tidak adakah peluang untuk sejarah baru untuk memperbaikinya, bukan mengulang kesalahan di waktu silam dengan memahami makna yang paling mendasar? Sebentar saja, kemarilah.. Kau.. hawa.. kau.. juga.. aku hawa.. dia juga.. hawa.. hawa.. seperti apa dia? bukankah belaiannya lembut seperti seorang ibu? Bukan malah mengaborsi atau membuangnya ketempat sampah? DIA, DIA hanya mampu menjadi algojo yang labil dan rapuh. (mengatur napas) sekali saja, maukah kau pendengar? Tolong, Jawab dari hatimu, satu pertanyaanku; apakah kau benar-benar hawa?
(Samar tapi terus terdengar tidaakk, bukann.. seperti sebuah instrument yang dingin)
Y·K
dpentaskan keliling di 5 kota, tanggal 7 Juni - 5 Juli 2005
Nb: siapapun yg berminat silahkan mengkopinya.

Saturday, May 28, 2005

Tinta 10 :

Let’s Rock The Cyber
(taken from; Let’s Rock The cyber)

“Jangan panggil aku cyber, karna aku bukan cyber”, tolak Qq suatu hari, ketika seseorang memanggilnya dengan sebutan itu. Bukan berarti itu suatu penyangkalan bahwa dirinya pernah larut dalam dunia maya, tapi lebih pada segi kualitas yang dimiliki dirinya untuk disebut seorang cyber.
Cyber, versi Qq adalah seseorang yang sangat jenius. Meski kepandaian dan keahlian itu banyak disalah gunakan. Sebut saja ‘kenakalan’ para cyber. Memakai kartu kredit orang untuk berbelanja, mencuri data pihak luar hingga membuat kekacauan yang dasyat, beberapa diantaranya malah berurusan dengan pihak yang berwajib. Nah, kalo yang ini ga usah dicontoh, berbahaya, hehehe...
Semuanya tergantung tujuan, bukan hanya sisi negatif seperti yang selama ini diekspos media, seperti situs seks dan pencurian. Mau mencari teman? Boleh. Mencari jodoh? Sah, karena banyak juga situs yang membantu mencarikan jodoh untukmu. Jangan salah, banyak yang berhasil loh! Teman kakakku misalnya, dia menikahi gadis asal Padang, berkat jasa internet. Mau mencari kerja? Bisa juga. Satu hal, tetap teliti dan hati-hati agar tidak tertipu dan pandai memilah. Kesimpulannya, banyak informasi yang bisa didapat dan ingat sesuaikan dengan saku, ketagihan berarti harus ada anggaran khusus.

˜D™

Perkenalannya dengan dunia maya sudah lebih dari setahun. Banyak yang Qq dapat, selain teman. Bukan hanya sisi negatif, yang membuatnya harus berhati-hati dan mawas diri, tapi nilai positif yang memperkaya cara berpikir dan mengasah kedalaman hati untuk merasai. Pelajaran hidup, cara pandang dan wawasan, semuanya semakin mendewasakan Qq dan hal itu patut disyukuri. Tertawa, menangis, jengkel dan marah, bahkan kecewa dan putus asa, kenangan yang tak mudah dilupakan. Teman yang tulus atau hanya memanfaatkan, kebersamaan yang kuat, perhatian dan keperdulian. Juga cinta …
Hampir semua teman dalam komunitas chatter JKT111 dan Nusa001 dia kenal, meski tidak semuanya menjadi dekat. Bahkan banyak juga yang belum bertemu muka. Ada yang tinggal diluar kota, di luar negeri, ada juga tinggal sekota tapi enggan ikut acara kopdar, satu lagi ada juga yang tak ingin membongkar identitasnya. Seperti inilah; di dunia maya kita teman, tapi dikehidupan sehari-hari kita tetap orang asing yang tak perlu saling kenal (mungkin).
Ya, karena itulah menghabiskan malam didepan komputer bukanlah pekerjaan sia-sia. Menurutnya, dunia ini unik, penuh misteri tapi juga begitu transfaran dan menyenangkan. Everybody can be everyone who they like. Bahkan to be a super star, apa bedanya dengan berteater? Memainkan banyak peran dihadapan banyak jiwa maya di dalam dunia maya. Hanya media pentasnya saja yang berbeda.
Pernah suatu ketika, aku berbincang dengan manusia maya yang entah dari mana dengan akrabnya. Hal yang tak bisa kulakukan ketika harus berhadapan dengan manusia baru di dunia nyata. Tak perlu tau namanya, bisa langsung menyapa, hanya berawal dari “hai..” atau “helo” lalu diteruskan dengan “apa kabar?” mengalirlah pembicaraan itu. Kalau suka berlanjut, dan kalau tidak tinggal tutup saja kotak ‘PM’-nya dan aktifkan tombol ‘block ID’. Selesai.
Benarkah semudah dan segampang itu? Berpuluh-puluh pertanyaan yang timbul tenggelam, selalu hadir menggoda setiap kali interaksi itu berakhir, dan komputer dimatikan. Apakah dalam dunia maya percakapan bisa dikatakan pertemuan? Apakan dalam dunia maya kita dikenai sangsi dosa? Apakah mereka bahagia melakukannya? Kenapa harus berpura-pura? Haruskah menjadi pribadi yang lain? Apakah mereka orang bermasalah yang tak puas dengan hidup? Ataukah sudah terbiasa hidup dengan peran ganda? Apakah mereka waras? Apakah mereka kesepian? Apakah..?? kenapa..?? Lalu aku melihat diriku, apakah aku? Kenapa aku? Sakitkah aku? Panggung dengan multi lakon dan peran. Manusia-manusia ini ada, namun tak ada. Seperti hantu gentayangan yang tak kita yakini keberadaannya. Eksistensi manusia dalam layar kata. (bersambung)
buku ini kupersembahkan untuk dunia cyber dan penghuninya
terutama teman maya yang telah menjadi nyata
FYI: maaf bukunya telat

Friday, May 27, 2005

Tinta 9 :

segores tinta;

1.Teratai
Teratai mengapung sendiri ditelaga
Seperti aku, sendiri menikmati dini hari

Dalam gelapnya kamar ini


2. Luka

Aku memang tak takut luka
Sebab luka sudah begitu akrab
Larilah menjauh

Karena lukanya bisa membunuhmu


3. Tanya
Jangan lagi kau tanyakan hal yang sama
Sia-sia

Jawabnya tetap sama

4. Kematian

Seperti kematian
Kitapun tinggal menunggu waktu
Sang algojo datang tanpa bisa dicegah

Dan kita harus menyerah pasrah

5. Lupakan

Sudahlah, kita lupakan!
Sebentar saja
Tentang cinta
Tentang masa depan
Tentang beratnya rintangan
Tentang pertengkaran
Tentang ketidakjelasan
Tentang..tentang..tentang..
Ah, sudahlah
Mari kita nikmati yang ada
Dengan secangkir kopi dan sebatang rokok

Semoga waktu berhenti hanya pada saat kita bahagia

(27 Mei 2005)

Yunis Kartika

copyright © www.yuniskartika.tk 2005 - all rights reserved