<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=10946325&amp;blogName=Panggung,+Tinta,+dan+Aku....&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLACK&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http://yunis.blogspot.com/search&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http://yunis.blogspot.com/&amp;vt=-6159295004169351406" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Sunday, March 06, 2005

Tinta 4 :

NIGHT BLUE

Dari potongan tubuhnya mungkin orang sudah bisa menerka siapa laki-laki itu. Kemanapun kalau dia pergi (kalau sedang tidak tugas) jaket kulitnya tidak pernah lepas. Kadang yang hitam kadang yang biru tergantung suasana hati.

Sebut saja Mr. Sam, begitu aku menyebutnya. Laki-laki yang usianya kurang lebih tengah berada pada puber kedua. Aku mengenalnya disebuah tempat hiburan. Terus terang pada waktu pertemuan pertama aku tidak menduga bahwa aku tengah berhadapan dengan orang penting. Kesan pertama cukup humoris disela-sela gurauannya yang kadang-kadang porno. Tawanya enak didengar mungkin karena sudah terbiasa dengan suasana seperti ini.

Suatu hari aku bertemu dengan Mr.Sam lagi. Aku sedikit terpesona dengan penampilannya. Dalam baju coklat itu ia memang tampak lain, ada semacam wibawa yang membuat setiap orang hormat. Aku teringat kelakuannya di “RM”, lain sekali. Ia getol mencim bibir para “PL”. Tidak perduli didepannya ada orang atau tidak. Siapa yang mengira kalau ia…

Aku tidak tahu pasti apa ia bisa membaca pikiranku. Ketika aku masuk ruangannya ia menyuruhku menungu, tampaknya sang Mr. sedang memberi pengarahan dan mendengarkan laporan. Ia mendengarkan dengan tekun, tangannya terlipat diatas meja, matanya menatap tajam, sesekali sang Mr. menyela seperti kurang puas. Sambil menatapnya aku masih terus berpikir tentang dia, mengapa orang seperti dia menghabiskan waktu ditempat hiburan? Yang sering datang kesana adalah orang-orang sakit, orang-orang yang tak tahu harus berbuat apa, selain minum dan memeluki perempuan-perempuan sambil menghambur-hamburkan uang. Orang-orang yang berbudaya rendah dan tidak suka membaca buku. Tentunya Mr. Bukan orang seperti itu!

Sekali waktu dia mengajak aku berkencan. Tidak buruk! Dia cenderung memanjakan dan melindungi, mungkin inilah taktik seorang Don Juan abad ini. Dia memang punya istri, tidak masuk akal kalau dia masih lajang dengan status social seperti ini. Tapi aku juga percaya kalau dia punya banyak pacar, tapi karena itulah aku lebih menyukai dia.

Pada suatu bagian dia bercerita tentang daerah pribadinya, “Aku ingin punya anak”.

Aku menatapnya dalam-dalam, membiarkan dia menyelesaikan bagian itu. Dia melanjutkan dengan suara yang berat, berulang kali kudengar tarikan nafas panjang, aku masih menungu ketika dia terdiam. Aku melihat dikedalaman matanya, ia nampak lelah ada harapan dan keinginan, entahlah… Tiba-tiba aku jatuh cinta pada matanya, tapi aku tetap tidak mengerti aku berusaha untuk memaklumi tentang semua kompensasi yang dia buat untuk menunjukan jati diri.

Malam itu…aku menyerahkan diri.

1 Comments:

Anonymous yayangmuh said...

This comment has been removed by a blog administrator.

6:28 PM  

Post a Comment

<< Home


Yunis Kartika

copyright © www.yuniskartika.tk 2005 - all rights reserved