<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=10946325&amp;blogName=Panggung,+Tinta,+dan+Aku....&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLACK&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http://yunis.blogspot.com/search&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http://yunis.blogspot.com/&amp;vt=-6159295004169351406" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Friday, March 25, 2005

Tinta 5 :

GADISKU

Aku disini. kembali ketempat dimana kita bertemu 5 tahun yang lalu. Sudah banyak yang berubah, seperti aku yang juga banyak berubah. Jam 5, masih banyak waktu untuk menikmati suasana ini, kurapatkan jaket sambil terus melangkah mencari-cari jejakmu. Menelusuri jalan setapak yang pernah kita lalui. hutan yang dulu sudah tak seindah dulu lagi, mungkin karena tempat ini sudah begitu diekspos menjadi bumi perkemahan. Ah..sayang sekali bukan? Padahal dulu kita begitu mengagumi alam ini.
Sekarang aku menapaki jalan-jalan yang pernah kita lalui seorang diri, apapun yang kiluhat disini, apapun yang kulakukan disini selalu yang ada cuma kamu, kenapa kamu pergi? Udara semakin dingin, kabut lembah mulai turun, aku bergegas melangkah sebelum kabut tebal menghalangi arah pandang.
Setelah cukup lama kabut turun syukurlah malam ini cuaca cerah, bintang-bintang bagaikan hamparan pasir dipantai. Indah, benar-benar malam sejuta bintang. Bulan bersinar penuh, bulan purnama bisikku pelan. Kamu sekarang dimana? Masihkah dalam naungan langit yang sama? Tidakkah kau pikir bahwa malam ini indah?
Brrr…udara musim kemarau memang dingin, jaket bulu angsa saja tak cukup. Bergegas aku pergi kepinggiran hutan untuk mengumpulkan ranting dan berharap ada seonggok kayu bakar siap pakai. Dengan sigap kubuat api unggun untuk menghangatkan badan, nyala api unggun semakin mengingatkanku padamu. Shyala, gadisku, gadis berkemauan keras, kepala batu tapi rapuh. perawakan tinggi kurus, berpenampilan menarik dengan wajah yang buatku the most beautiful girl in the world, gadis yang sempurna, gadis dengan jiwa petualang juga gadis yang misterius dengan segala kesepian dan kesendirianya, gadis yang sampai sekarang belum juga bisa kumengerti keinginan, harapan, impian, gejolak jiwanya dan pola pikirnya. Shyala!

“hai.. boleh minta kayu bakarnya? Sapa seorang gadis kurus sok akrab ketika melihat setumpuk kayu bakar disebelahku.
“boleh, kami pulang besok jadi kayu bakarnya banyak sisa.” Jawabku ramah.
“kenalkan, Shyala.” Katanya sambil mengulurkan tangan.
“Jeff, tendanya dimana?”
“belakang kolam itu.” Jawabnya sambil menunjukan tempat yang dimaksud.
“segini cukup?”
“ya, thaks banget. Main-main ketendaku ya. Bye!” jawabnya cepat, lalu berbalik dan melangkah pergi.
“warna silver!!” teriaknya tanpa menghentikan langkah.
Gadis anaeh, pikirku. Datang dan pergi semaunya, David tersenyum penuh arti ketika melihat aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“napa Jeff?” tanyanya menggoda.
“ngga, aku pikir asyik juga tuh cewek.”
“embat aje, lu zomlo ini. Eh, sapa tahu dia ada temennya, jadi sekali kenalan dua cewek dalam genggaman.”
“sialan lu, eh ntar malam kita kesana .”
“siap kapten.”
Aku tidak menyesali pertemuan kita apalagi menyalahkan kau..rusa betinaku, cinta pertamaku. Pertemuan selanjutnya, selanjutnya dan selanjutnya yang akhirnya berlanjut menjadi suatu hubungan “kekasih”. Kau tetap rusa betinaku, lugu, lincah, misterius namun hangat. Tahun pertama kurasa betapa beruntung menjadi kekasihmu, begitu tulus, begitu indah, aku menikmati setiap kebersamaan kita bersamaan dengan tumbuhnya sebuah tunas yang perlahan tumbuh menjadi besar, berbunga dan mengakar kuat. Membuatku mematri janji bahwa aku hanya akan mencintaimu.
Sudah kujajaki gunung Gede, Pangrango, Ceremai dan Semeru bersamamu, tidakkah itu bikin aku tambah sulit melupakanmu?
“Jeff, Kerinci yuk?” ajakmu sore itu.
“kapan?”
“minggu depan.”
“maaf aku ngga bisa, ada rapat bulanan diorganisasi. Gimana kalau bulan depan?”
“ya gimana kamu deh!” jawabmu pendek. Aku tahu kamu kecewa.
Entah kapan tepatnya kurasakan kamu berubah, kau dengan ambisimu mulai menapak seorang diri, aku mulai merasa terabaikan tapi aku menerima dan tahun ketiga kita penuh dengan pertengkaran, seperti sore itu…
“Bali?” tanyaku kaget.
“ya, nanti malam aku berangkat.” Jawabmu ringan.
“kok mendadak?”
“kamukan sibuk, ga ada waktu buatku jadi aku pergi sendiri nanti juga disana dapat teman.” Jawabmu memancing emosi.
“kamukan cewek, aku ga setuju kalo terjadi apa-apa sama kamu gimana?” kataku mencoba bersabar
“alah sok perhatian, sok khawatir! Emang kalo aku cewe knapa? Jangan mulai masalah gender deh!!.” Jawabmu ketus.
Aku tahu kamu memancing emosiku dengan begitu kamu akan merasa tidak bersalah dan menjadikan itu alasan kepergianmu, dan aku terpancing…
“terserah, semoga kamu selamat!” ucapku kesal.
Kau terlalu berubah Shya!, sementara aku tahu kau belum tahu arah tujuanmu. Ah..malam semakin larut, bintang-bintang masih menaungiku yang terpekur seorang diri. Kita semakin jarang bertemu, kau datang dan pergi semaunya. Kadang kau datang dengan wajah penuh cinta dan kerinduan, kadang kau datang dengan mendung menggelayut diwajah atau datang hanya untuk bertengkar doang! Pusing dan bingung harus bagaimana menghadapimu. Aku tak bisa meninggalkanmu, aku tak bisa mencintai gadis lain. Hanya kau, meski kau toreh luka dihatiku.
“aku punya pacar lagi.”
“apa?” tanyaku tak percaya dengan apa yang kamu ucapakan.
“kamu boleh putusin aku, aku udah mengkhiatani kamu.”
Entah apa maksudmu sebenarnya dengan mengatakan itu. Sakit, kecewa dan terluka. Tapi aku tetap tak bisa meninggalkanmu, terlalu sayang. Kutelan luka ini dengan doa yang tak henti-henti kupanjatkan agar kau segera kembali seperti dulu. Mungkin ini salahku terlalu sibuk dengan kegiatan, sementara aku membatasi langkahmu. Ah…aku memang egois. Hanya satu yang kusesali, mengapa kau menjadi begitu tertutup, mengapa kau tak berbagi duka denganku?
“Jeff, surat buatmu.” Kata teman sekostku, sambil menyodorkan sepucuk surat.
“dari siapa?”
“Shyala.” Tanpa pikir panjang aku ambil surat itu.
Hanya sepucuk surat. Aku tersenyum getir, akhirnya kau pergi meninggalkan aku. Ya, kau yang meninggalkan aku kini. Tanpa kusadari lagi kau telah semakin berubah jauh. Mengepakan sayap untuk terbang tinggi, lepas dan bebas sesuka hati. Aku hanya bisa berdoa semoga kau temukan apa yang kau cari slama ini.
Sesaat kulihat bintang jatuh, semoga dia bahagia pintaku. Waktu merambat pagi, nyala api unggun perlahan padam. Kuhisap rokok terakhir dalam-dalam. Kulihat mentari mulai menampakan dirinya, sudah pagi lagi. Ini kali terakhir aku kemari, sampai kau pulang dan kembali. Terbanglah tinggi, kepakan sayapmu, tegarlah meski aku tak tahu kapan lukamu terobati. Aku disini, menunggu…

Kamis, 20 Januari 2000
22.30 WIB

(janji 2 tahun itu telah terlewati,
dan aku tepati. Selamat tinggal!)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home


Yunis Kartika

copyright © www.yuniskartika.tk 2005 - all rights reserved