<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=10946325&amp;blogName=Panggung,+Tinta,+dan+Aku....&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLACK&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http://yunis.blogspot.com/search&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http://yunis.blogspot.com/&amp;vt=-6159295004169351406" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Friday, September 30, 2005

Tinta : 13

Catatan kaki untuk Yunis

Arthur S Nalan*)

Membaca 65 puisi yang digoreskan tangan perempuan yang punya “api gelora kepenyairan yang langka” karena wujudnya bisa berupa kilasan-kilasan kesan yang sublime, lewat kata-kata terpilih yang tak terduga, walaupun berbicara tentang “sepi”, “pengakuan”, “kegamangan” serta “pilihan-pilihan”. Ambil contoh yang saya anggap kilasan sepi adalah puisi yang berjudul Teratai, metaphor teratai menjadi tepat ketika sendiri di telaga, menikmati dini hari. Dan dalam gelapnya kamar, bisa kamar hati maupun kamar jiwa. Sepi terasa, apalagi kalau puisi ini direnungkan di malam sunyi, coba saja.
Sedangkan kilasan pengakuan diwakili oleh puisi yang berjudul Akhir Perjalanan, sebuah ajakan untuk kembali pada kesadaran lewat metaphor pakaian terbaikmu, tetapi untuk kehadiran sebuah gumpalan kekecewaan yang di metaphorkan pula dengan janin yang diaborsi berarti digugurkan bukan pada saat yang tepat. Sementara kilasan kegamangan yang berjudul Minggat, penyairnya ingin lari dari sebuah dunia yang palsu tapi terasa gamang karena ditutup dengan bertanya, komitmen entahlah dimana benda abstrak itu berada. Untuk puisi yang terasa sebagai pilihan-pilihan, diantaranya puisi-puisi Air Mata, Luka, Rasa, Jarak dan banyak lagi. Tetapi saya paling suka puisi yang berjudul Tunggu, karena terasa ada kerinduan yang dalam dan intens, hati seorang perempuan yang mendambakan kasih sayang.

Tunggu

Sayang,
Aku akan tiba di kota biru
Sebelum pagi habis
Meluncur di ujung gelas kopimu


Kesan setelah membaca 65 puisi Yuni ini, terasa “berkecamuk” berbagai perasaan dan ia memang mengajak merenung tentang pertautan antara dua insan, laki dan perempuan. Posisi yang diambilnya adalah seorang perempuan yang mempertanyakan hakekat kasih sayang yang tak lupa ada nafsu di dalamnya, baik amarah maupun birahi. Puisi memang sublimasi, tetapi puisi bukan hanya sekedar curahan hati. Jalan masih panjang untuk kau jelang, menjadi penyair perlu membangun suara hati dengan jiwa Sanyasi (ingat drama Tagore). Saya hanya baru bisa membuat catatan kaki. Selamat.

Bandung, 27 September 2005
*)Penulis adalah Rektor STSI Bandung, penulis essai dan naskah drama dan pengamat seni

Yunis Kartika

copyright © www.yuniskartika.tk 2005 - all rights reserved