Tinta : 15
LET'S ROCK THE CYBER!
(Sebagai kelanjutan dari Tinta: 10-sekedar cuplikan)
antara ada dan tiada
dimana ada pada tiada
dimana tiada pada ada
dimana ada pada ada
dimana tiada pada tiada
mengada tiada, tiada mengada
Antara senang dan tidak. Senang karena akhirnya akan bertemu dengan teman-teman baru yang sudah menemani setiap malam-malamnya. Tidak senang karena merasa takut semua akan berakhir. Seorang aktor sangat bangga ketika berdiri di atas panggung, lalu ketika petunjukan usai, layar ditutup dan tepukan berakhir, maka tamatlah semuanya.
Apakah akan seperti itu? Ahhhh.. Tiba-tiba perasaan sentimentil menyelinap. Bodoh! Umpatku dalam hati. Ingat, jangan menyamakan kopdar dengan panggung sandiwara. Dibalik topeng-topengnya, mereka adalah manusia nyata. Kenapa musti takut, semua pasti ada akhirnya. Cepat atau lambat pertemuan tak akan bisa dihindari. Bukankah justru akan semakin mempererat persahabatan yang sudah terjalin selama ini. Ya-ya, mungkin saja.
1 Januari, 03.00 dini hari menuju Anyer
Mobil kijang yang kami tumpangi meninggalkan kota, memasuki jalan tol. Hanya aku dan Ijal. Tahun sudah berganti baru. Lembaran baru. Sepanjang perjalanan kami berbincang tiada henti untuk menghalau kantuk dan menyambut kuncup tahun yang baru berganti.
Perjalanan memakan waktu 5 jam. Tepat jam 8 pagi kami tiba disebuat bungalow di pinggir pantai Anyer. Nampak beberapa buah mobil terparkir disana. Berplat B. hmm, teman-teman dari Jakarta. Cuma kami yang berplat D. segera kuparkirkan mobil. Sangat lelah, bayangkan sehabis pentas, langsung meluncur ke Anyer dan aku menyetir tanpa bergantian, soalnya Ijal ga bisa nyetir. Ups!
Di teras terlihat beberapa orang tengah bersantai menikmati pagi sambil menatap pantai yang terhampar lepas didepan. Pemandangan yang indah. Aku tidak mengenal satupun diantara mereka. Begitupun Ijal ketika kutanyakan padanya apakah ada diantaranya yang dia kenal. Kami berjalan bersisian.
“Assalamualaikum.” Sapa Ijal begitu menginjak teras, orang-orang tadi langsung memandang kami bergantian. Seolah bertanya siapa ni?
“Wa’alaikum salam.” Jawab seorang perempuan yang mengenakan jilbab. Kami berjalan mendekat. Satu persatu kami salami sambil mengenalkan diri.
“Onyet.” Begitu Ijal menyebut dirinya dengan nama cybernya pada setiap orang yang disalaminya.
“QQ.” Begitu juga aku, mengenalkan diri dengan nama cyberku.
-------
21 Februari, Pucak
Lain room Nusa001, lain juga cerita room JKT111. Kali ini yang punya ide kopdar akbar untuk room JKT111 ada sekitar 4 orang. Sekaligus yang ditugasi mengkoordinir teman-teman dari kota masing-masing. Aku dan Kimi diserahi tugas mengkoordinir teman-teman dari Bandung. Dengan tugas ekstra untukku membuatkan kaos untuk teman-teman. Beruntung ada seorang dermawan asal Kalimantan yang bersedia mendanai pembuatan kaos ini. Sementara dua orang moderator atau yang kita panggil pak RT bertugas mengkoordinir massa di Jakarta.
Singkat cerita, kami bertemu di puncak. Tempat yang kami sepakati untuk acara kopi darat akbar ini setelah melalui perdebatan yang cukup panjang. Sebuah rumah peristirahatan kami sewa. Untuk acara ini kami urun dana Rp. 100.000,- perorang. Tentu saja tidak semuanya bayar. Belum lagi yang minta diskon. Wah aku sempat pusing juga. Walhasil, acara tetap terlaksana.
-----
soon! 11 Februari 2006