<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=10946325&amp;blogName=Panggung,+Tinta,+dan+Aku....&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLACK&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http://yunis.blogspot.com/search&amp;blogLocale=en_US&amp;v=1&amp;homepageUrl=http://yunis.blogspot.com/&amp;vt=-6159295004169351406" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Wednesday, January 18, 2006

Tinta : 15

LET'S ROCK THE CYBER!
(Sebagai kelanjutan dari Tinta: 10-sekedar cuplikan)
antara ada dan tiada
dimana ada pada tiada
dimana tiada pada ada
dimana ada pada ada
dimana tiada pada tiada
mengada tiada, tiada mengada

Antara senang dan tidak. Senang karena akhirnya akan bertemu dengan teman-teman baru yang sudah menemani setiap malam-malamnya. Tidak senang karena merasa takut semua akan berakhir. Seorang aktor sangat bangga ketika berdiri di atas panggung, lalu ketika petunjukan usai, layar ditutup dan tepukan berakhir, maka tamatlah semuanya.
Apakah akan seperti itu? Ahhhh.. Tiba-tiba perasaan sentimentil menyelinap. Bodoh! Umpatku dalam hati. Ingat, jangan menyamakan kopdar dengan panggung sandiwara. Dibalik topeng-topengnya, mereka adalah manusia nyata. Kenapa musti takut, semua pasti ada akhirnya. Cepat atau lambat pertemuan tak akan bisa dihindari. Bukankah justru akan semakin mempererat persahabatan yang sudah terjalin selama ini. Ya-ya, mungkin saja.

1 Januari, 03.00 dini hari menuju Anyer
Mobil kijang yang kami tumpangi meninggalkan kota, memasuki jalan tol. Hanya aku dan Ijal. Tahun sudah berganti baru. Lembaran baru. Sepanjang perjalanan kami berbincang tiada henti untuk menghalau kantuk dan menyambut kuncup tahun yang baru berganti.
Perjalanan memakan waktu 5 jam. Tepat jam 8 pagi kami tiba disebuat bungalow di pinggir pantai Anyer. Nampak beberapa buah mobil terparkir disana. Berplat B. hmm, teman-teman dari Jakarta. Cuma kami yang berplat D. segera kuparkirkan mobil. Sangat lelah, bayangkan sehabis pentas, langsung meluncur ke Anyer dan aku menyetir tanpa bergantian, soalnya Ijal ga bisa nyetir. Ups!
Di teras terlihat beberapa orang tengah bersantai menikmati pagi sambil menatap pantai yang terhampar lepas didepan. Pemandangan yang indah. Aku tidak mengenal satupun diantara mereka. Begitupun Ijal ketika kutanyakan padanya apakah ada diantaranya yang dia kenal. Kami berjalan bersisian.
“Assalamualaikum.” Sapa Ijal begitu menginjak teras, orang-orang tadi langsung memandang kami bergantian. Seolah bertanya siapa ni?
“Wa’alaikum salam.” Jawab seorang perempuan yang mengenakan jilbab. Kami berjalan mendekat. Satu persatu kami salami sambil mengenalkan diri.
“Onyet.” Begitu Ijal menyebut dirinya dengan nama cybernya pada setiap orang yang disalaminya.
“QQ.” Begitu juga aku, mengenalkan diri dengan nama cyberku.
-------

21 Februari, Pucak
Lain room Nusa001, lain juga cerita room JKT111. Kali ini yang punya ide kopdar akbar untuk room JKT111 ada sekitar 4 orang. Sekaligus yang ditugasi mengkoordinir teman-teman dari kota masing-masing. Aku dan Kimi diserahi tugas mengkoordinir teman-teman dari Bandung. Dengan tugas ekstra untukku membuatkan kaos untuk teman-teman. Beruntung ada seorang dermawan asal Kalimantan yang bersedia mendanai pembuatan kaos ini. Sementara dua orang moderator atau yang kita panggil pak RT bertugas mengkoordinir massa di Jakarta.
Singkat cerita, kami bertemu di puncak. Tempat yang kami sepakati untuk acara kopi darat akbar ini setelah melalui perdebatan yang cukup panjang. Sebuah rumah peristirahatan kami sewa. Untuk acara ini kami urun dana Rp. 100.000,- perorang. Tentu saja tidak semuanya bayar. Belum lagi yang minta diskon. Wah aku sempat pusing juga. Walhasil, acara tetap terlaksana.
-----
soon! 11 Februari 2006

Saturday, January 14, 2006

Tinta : 14

Lagu Yunis
Lagu Cinta Diam-diam

Soni Farid Maulana*)
aku menyukai keringatmu
yang mengucur deras
di antara himpitan pahaku
kau hanya budak napsu

MEMBACA antologi puisi “Kukenal Kau Lewat Malam,” lepas dari segala kelebihan dan kelemahannya dalam mengolah kata, lambang, metafor, rima, apapun namanya yang berkaitan dengan penulis puisi, adalah membaca “ayat-ayat cinta” dengan berbagai variasinya. “Ayat-ayat cinta” itu ditulis oleh penyair Yunis Kartika selama 1996-2005.
Ayat-ayat itu diam-diam datang kepada kita kadang seperti gairah terpendam, yang kemudian meledak setelah menemukan muara pembebasan, ketika rindu menemukan maknanya yang signifikan dengan itu. Namun demikian pada sisi yang lain, ayat-ayat itu diam-diam datang kepada kita seperti sepangkas bunga bakung, yang dipisah orang dari tangkainya secara paksa. Pada sisi lainnya justru, justru ia datang seperti gelombang laut yang liar: yang seakan-akan hendak berkata, “enyahlah kesepian dan kesunyian dari batinku.” Keliaran itu, bisa kita rasakan dalam empat larik puisi di atas, yang diberi judul Kau.
Sebagai penyair yang tengah berproses dalam menemukan daya ucapnya, yang lebih memungkinkan untuk berkembang dari apa yang telah dicapainya selama ini, Yunis setidaknya telah menunjukkan pada kita bahwa apa yang ditulisnya itu benar-benar bersumber dari pengalaman, yang tidak hanya merujuk kepada pengalaman rohaninya saja, tetapi juga pada pengalaman berbahasa, mengolah kata, melahirkan daya ucap yang personal dalam menulis puisi-puisinya.
Ia telah mengolah dua pengalaman itu secara sungguh-sungguh dalam upayanya yang keras membangun dunia rekaan dari timbunan kata-kata. Tanpa penghayatan yang dalam terhadap apa yang dialaminya secara rohaniah itu, kiranya sangat musthil Yunis bisa menulis puisi seperti di bawah ini, yang ditulis dengan kalimat-kalimat yang sederhana. Namun makna yang dikandungnya tidak sesederhana itu.
LAGU CINTA
aku melihatnya diam-diam
mengharap dan mengkhayalkannya diam-diam
lalu menyintainya (juga diam-diam)
hanya ketika aku syukuri, aku tak diam-diam
aku melihatnya diam-diam
mengharap dan membelainya diam-diam
menelan hasrat yang juga diam-diam
ketika aku terjaga aku memikirkannya juga
diam-diam
sebuah tanya menyeruak dalam benakku:
“haruskah terus diam-diam?”
“Haruskan terus diam-diam?” sebuah pertanyaan eksistensial, yang menohok. Bagi peragu, mungkin pertanyaan semacam itu hanya akan menggiring dirinya ke sudut kelam. Akan tetapi bagi orang yang ingin menunjukkan harga dirinya, tentu saja, jawabnya adalah tidak, yakni tidak diam melulu. Suatu saat kita harus menunjukkan eksistensi kita sebaik atau seburuk apa pun ia. Apa sebab? Karena hidup kalau tidak ditawar adalah penawar dalam pengertian seluas-luasnya.
Dalam proses yang demikian itu, seluruh kehadiran kita diuji untuk mengada, untuk menjadi sesuatu yang meruang dan mewaktu. Upaya untuk meruang dan mewaktu ini setidaknya telah diekspresikan Yunis lewat baris-baris puisinya, yang sebagian besar bersumber dari pengalaman hidupnya yang pahit dan getir, terpelanting ke dalam dunia yang sepi dan sunyi, kegagalan. Atas pengalaman semacam itu, di situ duka seakan tiada batasnya yang digambarkan Yunis seperti puisinya di bawah ini:
DERMAGA
mengapa tak kau tambatkan
perahumu pada satu dermaga?
padahal kau lihat
bukan hanya satu pelabuhan
yang mau kau sandari
kalau dulu
pernah ada pelabuhan kecil yang harus
dilupakan
mengapa tak kau lakukan?
Setidaknya, demikianlah Yunis telah hadir kehadapan kita dengan puisi-puisinya yang ditulis dengan kalimat demi kalimat yang sederhana itu, namun padat makna. Ia dengan segala kelebihan dan kelemahannya telah berani menunjukkan dirinya dengan segala luka-luka yang dikandungnya. Lewat apa yang ditulisnya ini, ia berupaya meruang dan mewaktu, atau setidaknya – ia telah berupaya mengkristalkan berbagai pengalaman hidupnya itu dalam lemari es kata-kata -- yang pada suatu hari nanti akan mencair menjelma air yang bening di hadapan pembacanya. Peristiwa ini terjadi karena apa yang ditulis oleh Yunis telah membuka ruang komunikasinya secara lebar-lebar, sehingga jika ada orang masuk ke dalamnya merasa karib dengan apa yang dialaminya selama ini. Ini artinya ada pengalaman kolektif, yang diam-diam diupayakan hadir oleh Yunis dalam sejumlah puisi yang ditulisnya selama ini. Setidaknya itulah saya tangkap dari pengalaman baca saya terhadap teks puisi yang ditulis Yunis selama ini. ***
Bandung, 2 Oktober 2005
*Penulis adalah seorang Penyair dan Wartawan

Yunis Kartika

copyright © www.yuniskartika.tk 2005 - all rights reserved